Tradisi Nyimpen di Sekarbela: Hangatnya Doa, Haru Perpisahan, dan Pesan Wali Kota untuk Melepas Dunia Sementara

Tradisi Nyimpen di Sekarbela: Hangatnya Doa, Haru Perpisahan, dan Pesan Wali Kota untuk Melepas Dunia Sementara

18 Apr 2026 3 menit baca Diupdate 18 Apr 2026 admin admin

 

Tradisi Nyimpen di Sekarbela: Hangatnya Doa, Haru Perpisahan, dan Pesan Wali Kota untuk Melepas Dunia Sementara

 

 

Mataram – Siang itu, suasana di Masjid Al Raisiyah, Sekarbela, terasa berbeda. Bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi pertemuan antara harapan, doa, dan haru yang menyatu dalam satu tradisi yang telah hidup lama di tengah masyarakat: Nyimpen.

 

Di antara koper-koper yang tersusun rapi, ada cerita tentang perjalanan spiritual yang akan segera dimulai. Ada tangan-tangan yang dengan penuh kehati-hatian memasukkan perlengkapan pribadi para Calon Jemaah Haji (CJH), seolah menitipkan doa di setiap lipatan pakaian. Dan ada mata yang berkaca-kaca—antara bahagia dan berat melepas.

 

Sebanyak 35 CJH dari empat lingkungan—Pande Mas Timur, Pande Mas Barat, Pande Besi, dan Mas Mutiara—tahun ini menjadi bagian dari tradisi tersebut. Mereka bukan hanya bersiap berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga menjalani sebuah prosesi yang mengikat mereka dengan akar budaya dan kebersamaan masyarakatnya.

 

Prosesi Nyimpen sendiri bukan sekadar memasukkan barang ke dalam koper. Ia adalah simbol. Simbol penyerahan diri, simbol kesiapan, dan simbol kebersamaan. Tokoh agama dan tokoh masyarakat yang memimpin prosesi ini bukan hanya membantu secara fisik, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin melalui lantunan tahlil dan dzikir yang mengalun khidmat di dalam masjid.

 

Di tengah suasana yang penuh makna itu, hadir Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, bersama Wakil Wali Kota, TGH Mujiburrahman. Kehadiran mereka pada Sabtu (18/04) siang tersebut,bukan hanya sebagai pemimpin daerah, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang turut merasakan hangatnya tradisi ini.

 

Dalam sambutannya, Wali Kota mengingatkan bahwa Nyimpen adalah warisan yang tidak ternilai.

 

“Hari ini kita kembali melaksanakan satu tradisi baik yang ditinggalkan oleh orang tua kita. Ini adalah bentuk ijtihad yang diwariskan, yang hingga kini terus kita rawat dan pelihara. Tradisi ini bukan hanya kebiasaan, tetapi nilai yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

 

Namun lebih dari itu, pesan yang disampaikan Wali Kota menyentuh sisi paling personal dari perjalanan ibadah haji: tentang keikhlasan untuk melepas.

 

Di hadapan para CJH, ia berpesan dengan nada yang tenang namun dalam, agar mereka mulai meninggalkan urusan dunia—meski hanya sementara.

 

“Kepada Bapak dan Ibu jemaah, mari tinggalkan sejenak urusan dunia. Fokuskan diri pada ibadah. Tidak lama lagi akan berangkat ke Tanah Suci. Semoga seluruh ikhtiar, keikhlasan, dan tawakal menjadi jalan turunnya rahmat dan kemudahan,” tuturnya.

 

Pesan itu sederhana, tetapi terasa begitu dekat. Sebab di antara para CJH, ada yang meninggalkan keluarga, pekerjaan, bahkan tanggung jawab sehari-hari yang selama ini melekat. Dan di momen itulah, Nyimpen menjadi ruang untuk saling menguatkan.

 

Doa-doa kemudian dipanjatkan. Tidak hanya untuk kelancaran perjalanan, tetapi juga untuk kesehatan, keselamatan, dan harapan terbesar: menjadi haji yang mabrur.

 

“Semoga berangkat dalam keadaan sehat wal afiat, dimudahkan dalam menjalankan seluruh rukun haji, dan kembali ke tanah air dengan selamat serta memperoleh haji yang mabrur,” ucap Wali Kota, yang langsung diamini serentak oleh para jemaah dan keluarga yang hadir.

 

Di sudut lain, beberapa keluarga tampak menggenggam erat tangan orang tercinta. Ada senyum yang dipaksakan, ada air mata yang ditahan. Tradisi ini, pada akhirnya, bukan hanya tentang keberangkatan—tetapi juga tentang merelakan.

 

Nyimpen mengajarkan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin untuk melepaskan, menyederhanakan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

 

Dan di Sekarbela, tradisi ini terus hidup—menjadi pengikat antara generasi, penjaga nilai gotong royong, serta pengingat bahwa dalam setiap perjalanan besar, selalu ada doa-doa kecil yang mengantarkan.(TK-DISKOMINFO)

 

 

avatar
Penulis
admin
Diterbitkan 1 hari yang lalu