
Manasik Jadi Titik Awal Perjalanan Suci, Wali Kota Mataram: Siapkan Diri Lahir dan Batin
Mataram- Pagi itu, suasana di Masjid Jami’ Al-Ijtihad, Jempong Baru, terasa berbeda. Ratusan calon jemaah haji duduk rapi, sebagian menggenggam buku panduan, sebagian lain saling berbincang pelan—tentang perjalanan panjang yang akhirnya akan segera mereka tempuh. Bagi banyak di antara mereka, ini bukan sekadar kegiatan manasik. Ini adalah awal dari sebuah penantian yang telah bertahun-tahun dijaga dengan doa.

Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, membuka langsung Bimbingan Manasik Haji Gratis bagi calon jemaah haji (JCH) Kota Mataram, Rabu (1/4/2026). Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa manasik bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan fondasi penting sebelum menapaki Tanah Suci.
“Manasik haji ini adalah titik awal dari safar yang sangat mulia. Setelah penantian panjang dan niat yang kuat, hari ini bapak dan ibu mulai memasuki tahap yang sesungguhnya,” ujarnya.

Di hadapan para calon jemaah, Mohan mengajak mereka memaknai setiap proses dengan kesungguhan. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap rukun, wajib, dan sunnah haji harus berjalan seiring dengan kesiapan mental, spiritual, dan fisik.
Namun lebih dari itu, ia berbicara tentang hal yang kerap luput dari perhatian—niat.
“Ibadah ini harus kita awali dengan niat yang tulus, semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. Keikhlasan dan kesabaran adalah landasan utama dalam berhaji,” katanya.

Di sudut lain ruangan, beberapa calon jemaah lansia tampak menyimak dengan saksama. Ada yang sesekali mengangguk, seolah menguatkan diri. Tahun ini, dari total 810 calon jemaah haji Kota Mataram, terdapat tiga orang jemaah lanjut usia—simbol bahwa panggilan berhaji tak mengenal batas usia, hanya kesiapan hati.

Wali Kota juga mengingatkan agar manasik tidak dipandang sebagai beban. Sebaliknya, ia menyebutnya sebagai ruang pembelajaran yang harus dijalani dengan rasa bahagia.
“Di sini bapak dan ibu mulai saling mengenal. Nanti, di Tanah Suci, teman-teman ini yang akan saling membantu,” ujarnya.

Kebersamaan itu, menurutnya, adalah kekuatan tersendiri dalam menjalani ibadah haji yang penuh tantangan.
Ia pun berpesan kepada para narasumber agar tidak hanya menyampaikan materi fikih secara teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai adab dan sopan santun. Tradisi baik jemaah haji asal Kota Mataram, kata dia, harus tetap dijaga dan menjadi identitas yang dibawa hingga ke Tanah Suci.

“Jangan hanya soal tata cara. Ingatkan juga tentang adab, tentang kebiasaan baik yang selama ini menjadi ciri jemaah kita,” tegasnya.
Selain kesiapan spiritual, kesiapan fisik juga menjadi perhatian. Mohan mengingatkan bahwa ibadah haji membutuhkan ketahanan tubuh yang prima.
“Mulai sekarang rajin olahraga. Persiapkan fisik sebaik mungkin,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Mataram, Amir Wisuda, menjelaskan bahwa kegiatan manasik berlangsung selama empat hari, mulai 1 hingga 4 April 2026, bekerja sama dengan IPHI Kota Mataram.

Pada hari kedua dan ketiga, materi teori akan diberikan di enam masjid yang tersebar di masing-masing kecamatan. Sementara hari keempat akan diisi dengan praktik manasik yang dipusatkan di Lapangan Sangkareang—menjadi penutup sekaligus simulasi perjalanan yang kelak akan mereka jalani di Tanah Suci.
Sebanyak 810 calon jemaah haji Kota Mataram tahun ini akan diberangkatkan dalam tiga kelompok terbang (kloter), terdiri dari dua kloter utuh dan satu kloter campuran. Dari jumlah tersebut, 376 jemaah laki-laki dan 434 jemaah perempuan.

Di akhir acara, suasana kembali menghangat. Senyum dan harap terpancar dari wajah para calon jemaah. Di antara mereka, mungkin ada yang telah menunggu belasan tahun, ada pula yang baru mendapat kesempatan. Namun satu hal yang sama: mereka sedang bersiap untuk sebuah perjalanan yang bukan hanya jauh secara jarak, tetapi juga dalam makna.
Perjalanan menuju Tanah Suci—yang dimulai dari sini, dari niat yang diam-diam mereka kuatkan di dalam hati.**(TK-DISKOMINFO)